Skip to main content

Terapi Obat Alami Diabetes Melitus Dari Alam

Saat ini, obat alami diabetes melitus yang bersifat herbal sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Bila dahulu pengobatan herbal hanya populer bagi masyarakat desa atau golongan tua, sekarang masyarakat perkotaan modern juga sudah mengenal pengobatan ini. Pengobatan herbal Diabetes bermunculan saat masyarakat mulai memberikan perhatian lebih terhadap pengobatan ini yang biasanya selalu mengandalkan pengobatan secara modern (konvensional dan sintetis).

Catatan Tentang Obat Alami Diabetes Melitus dan Cara Diagnose Tradisional 

obat alami diabetes melitus

Antropolog asal Cina menemukan catatan tentang cara pengobatan dan racikan herbal oleh suku Cina Tao yang ber asal dan 600 tahun sebelum masehi,

Sedangkan pengobatan modern baru berumur sekitar 200 tahun. Akan tetapi, terjadi perkembangan yang pesat pada pengobatan modern

Dibandingkan pengobatan herbal karena penelitian di bidang pengobatan modern terus dilakukan dan peralatan teknis untuk membantu diagnosis juga terus berkembang.

Akan tetapi, dari abad ke-7 sampai sekarang tidak terjadi perubahan terhadap dasar-dasar untuk mendiagnosis suatu penyakit.

Para herbalis atau sinshe sudah sejak dahulu mengenal cara mengukur tensi dan denyut nadi pasien tanpa menggunakan alat.

Untuk mendiagnosis suatu penyakit bisa dilakukan dengan melihat perubahan pada indra, seperti mata, bibir, lidah, dan telinga.

Masyarakat Cina Tao juga tidak mengenal operasi. Mereka melakukan cara menyembuhkan penyakit diabetes melitus  dengan memberikan racikan obat alami diabetes melitus dari beberapa bagian tubuh hewan,  dari tumbuhan, dan mineral.

Ada bermacam-macam teknik pengobatan ini baca di artikel lainnya http:/obatalami1001.com

Mereka juga menggunakan terapi totok sebagai pengobatan yang dilakukan dari luar. Pengobatan dengan cara ini atau dikenal dengan pengobatan tradisional juga telah lama di lakukan oleh nenek moyang kita zaman dahulu.

Di luar negeri, terutama Eropa dan Australia, sudah sejak lama masyarakatnya lebih menyukai obat-obatan herbal tradisional.

Salah satu contohnya di Jerman, dalam kurun waktu lebih dan 10 tahun terakhir homeopati atau pengobatan herbal lebih diutamakan oleh pasien.

Hebatnya lagi, pengobatan herbal sudah diakui oleh asuransi kesehatan. Di Indonesia, obat herbal lebih dikenal dengan jamu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI yang memberikan izin juga menggolongkan obat herbal untuk kesehatan ke dalam jamu.

Sesuai dengan keputusan Kepala Badan POM RI No. 00.05.4.2411 Tahun 2004, berdasarkan proses pembuatan dan jenis klaim penggunaan  khasiat obat bahan alam Indonesia dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

  • Jamu, yang merupakan obat tradisionalwarisan nenek moyang. Manfaat dan khasiatnya dikenal secara empiris (berdasarkan pengalaman turun-temurun). Kita bisa menemukannya dalam bentuk herbal kering yang siap seduh atau direbus, juga dalam bentuk segar rebusan (jamu godog) seperti yang dijual tukang jamu gendong. Bahkan, saat ini sudah mulai praktis karena diproduksi dalam bentuk pil atau kapsul yang siap minum.
  • Obat herbal terstandar, yang dikembangkan berdasarkan bukti-bukti ilmiah dan uji praklinis serta standardisasi bahan baku dan melewati sebuah proses ekstrak, uji toksisitas, serta higienitas.
  • Fitofarmaka, yang dikembangkan berdasarkan uji klinis, standardisasi bahan baku, dan sudah bisa diresepkan dokter.

Faktor obat herbal Tradisional berfungsi dan berkhasiat

obat herbal deabetes

1.  Obat-obatan herbal

Simplisia merupakan bahan bahan alam yang berkhasiat  sebagai obat-obatan, namun dalam proses pengolahannya masih sangat sederhana.

Simplisia yang berasal dan tanaman atau eksudat tanaman dlisebut sebagai simplisia nabati. Indonesia memiiiki kekayaan aneka ragam tumbuhan,

setidaknya terdapat sekitar 940 jenis di antara puluhan ribu jenis tanaman  yang saat diketahui mempunyai khasiat obat. Dan Dari jumlah tersebut, baru 250 jenis di proses  dalam industri jamu. Berikut jenis-jenis simplisia nabati.

  • Herba

Herba merupakan tanaman obat yang digunakan mulai dari buah, bunga, , daun, batang, dan akar pada tanaman jenis herbaceus.

  • Buah (fruktus)

Buah untuk simplisia biasanya yang sudah masak.

  • Daun (folium)

Daun bisa dikatakan merupakan yang paling sering digunakan dalam proses ramuan herbal

untuk pembuatan obat.Jenis  Daun yang dapat  digunakan bisa daun kering atau daun yang masih segar.

  • Bunga (flos)

Bunga tunggal / bunga majemuk dapat untuk digunakan sebagai simplisia.

  • Biji (semen)

Biji yang digunakan biasanya dikumpulkan dari buah yang sudah masak.

  • Kulit buah (pericarpium)

Kulit buah pada umumnya  di ambil  dari buah buahan yang sudah masak.

  • Kulit kayu (cortex)

Pada tanaman tingkat tinggi, kulit kayu merupakan bagian terluar dari batang.

  • Kayu (lignum)

Kayu tanpa kulit merupakan salah satu yang biasa di gunakan untuk herbal. Kulit kayu pada umumnya dipotong secara miring dan hingga permukaannya menjadi lebar, tetapi ada juga yang berupa serutan kayu.

  • Akar (radix)

Akar yang digunakan sebagal simplisia bisa berupa akar tunggang dan akar serabut.

Jenis akar tunggang terdapat pada tumbuhan yang ditanam dan biji. Simplisia tersebut bisa rumput, perdu,serta  tanaman berkayu keras.  akar dikumpulkan ketika  proses pertumbuhan pada tanaman tersebut terhenti.

  • Rimpang (rhizome)

Rimpang adalah  batang dan daun di dalam tanah. Bentuknyabercabang-cabang dan biasanya tumbuh mendatar. Tunas tumbuh dari ujungnya dan naik ke permukaan tanah menjadi tumbuhan baru.

  • Umbi (tuber)

Umbi merupakan penjelmaan batang atau akar hingga di kelompokkan yaitu umbi batang dan umbi akar. Yang biasa di gunakan , umbi biasanya dipotong miring agar permukaannya menjadi lebar. Umbi harus melewati proses perendaman ataupengukusan terlebih dahulu apabila umbi bersifat tonik.

  • Umbi lapis (bulbus)

Umbi lapis merupakan bagian yang berlapis-lapis daunnya, berdaging, lunak, dan tebal.

Dalam memilih  bahan dasar obat  harus memperhatikan , kandungan kimia , aroma, sifat fisiologisnya, , maupun rasa. Bahan baku untuk membuat obat herbal pemilihannya harus tepat, demikian juga dengan jenis dan bagian tanaman yang digunakan. Hal ini disebabkan karena terdapat perbedaan kandungan dan khasiat yang berbeda dari setiap bagian tanaman.

Penyimpanan Simplisia juga harus diperhatikan, untuk simplisia yang segar, bisa disimpan di tempat yang bersih dan tidak terkena panas atau sinar mataharilangsung.

Jikahendak digunakan, bahan-bahan tersebut harus dicuci dahulu sampai bersih. Akan tetapi, untuk tanaman  segar yang baru disiapkan atau dipetik, sebaiknya langsung diproses.

Pada simplisia kering, harus disimpan di tempat yang kering. Jangan sampai simplisia kering tersebut terkena kotoran, lembab sebingga berjamur, atau dimakan serangga.

Apabila itu terjadi, simplisia tersebut jangan digunakan lagi.

Selain tempat penyimpanan, memperhatikan kebersihan ruangan, dan peralatan yang digunakan untuk memproses juga tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Panci , saringan, sendok, gelas, alat penggiling, dan peralatan lainnya harus dalam kondisi bersih.

Setelah digunakan, harus dibersihkan walaupun nanti akan dipakai kembali untuk memproses ramuan yang sama.

Hal itu sangat penting agar terhindar dari kotoran yang menimbulkan penyakit lain atau menghilangkan khasiat obat itu sendiri karena dalam kondìsi tidak bersih.

Perebusan simplisia sebaiknya menggunakan panci yang terbuat dai tanah, keramik, kaca, atau stainless steel.

sebisa mungkin jangan merebus ramuan dengan mengunakan panci berbahan alumunium kuningan, atau besi.

peralatan yang berbahan timbal atau timah hitam juga di larang keras karena akan menimbulkan endapan pembentukan  zat beracun, konsentrasi larutan obat menurun, atau efek  samping yang terjadi karena reaksi bahan kimia panci dengan zat yang dikeluarkan oleh simplisia.

Dalam proses pengolahan obat alami diabetes melitus, biasanya dilakuan dengan tiga cara, yaitu sebagai berikut:

  1. Memipis, yaitu menghaluskan dengan menggunakan sedikit air. Bahan yang digunakan biasanya merupakan bagian tanaman yang masih segar, seperti rimpang, daun, bunga, dan biji. Bahan yang sudah halus tersebut diperas hingga tinggal 1/4 cangkir, jika masib kurang dari 1/4 cangkir bahan tersebut diperas lagi dengan menambahkan sedikit air pada ampasnya tersebut.
  2. Menyeduh, yaitu bahan-bahan yang sudah diramu atau dipotong kecil-kecil dimasukkan ke dalam cangkir, lalu di siram dengan airpanas, lalu diamkan selama 5 menit dan saring. Simplisia yang diproses dengan cara ini bisa yang segar atau yang kering.
  3. Merebus, yaitu memasak ramuan simplisia di atas api dengan menggunakan air. Hal ini bertujuan agar zat-zat yang berkhasiat pada tanaman bisa larut ke dalam air. Dalam prosesnya, sebaiknya menggunakan volume api yang mudah diatur. Se- lain itu, setelah ramuan mendidih, bahan di dalam air dibiarkan dahulu selama 5 menit. Lalu, kecilkan api kompor agar air rebusan tidak menguap dan bisa tersisa tepat seperti yang dibutuhkan.

Penanganan dengan menggunakan obat untuk setiap jenis Komplikasi diabetes melitus tentu berbeda-beda. Obat-obatan herbal ada yang penggunaannya untuk kulit bagian luar tubuh (dilulur atau diuap) dan ada juga untuk bagian dalam tubuh (diminum). Demikian juga cara mengonsumsi ramuan herbal tersebut juga berbeda beda. Pada umumnya, ramuan dikonsumsi satu jam sebelum makan. Tujuannya agar proses penyerapan zat-zat yang berkhasiat menjadi lebih optimal serta tidak bercampur dengan makanan lainnya. Akan tetapi, untuk ramuan obat yang bisa merangsang lambung diminum setelah makan, untuk yang berfungsi sebagai penenang sebaiknya dikonsumsi sebelum tidur. Untuk ramuan obat yang bersifat sebagai tonikum (penguat), yaitu pada pagi hari sewaktu peruit masih dalam kondisi kosong. Untuk pasien yang tidak biasa mengonsumsi herbal, pada tahap awal bisa melakukan secara sedikit demi sedikit. Akan tetapi, setelah biasa bisa langsung meminum sebanyak dosis yang telah dianjurkan.

Biasanya, obat-obatan herbal dikonsumsi 2-3 kali seesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Untuk anak umur  5-9 tahun, biasanya meminum 1/3 dari dosis yang di anjurkan

untuk orang dewasa. Untuk usia 10-15 tahun meminum 1/2 dari dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa. Untuk jangka waktu pemakaian. Ramuan herbal yang diproses dengan cara direbus boleh disimpan selama sehari atau 24 jam, setelah melewati batas waktu, sebaiknya ramuan dibuang dan dibuat yang baru lagi. Ramuan yang diproses dengan cara diperas tanpa direbus, hanya boleh disimpan selama 12 jam. Apabila masih digunakan, ramuan tersebut bisa saja telah mengandung kuman akibat udara atau lingkungan.

2.  Herbalis dan obat

Secara umum, herbal memang memiliki efek samping yang lebih kecil daripada obat-obatan medis. Akan tetapi, bukan berarti obat-obatan herbal 100% aman bagi kesehatan. Penggunaan obat-obatan herbal harus sesuai dengan aturan seperti halnya pada obat- obatan medis. Ada

Pantangan obat alami diabetes melitus tertentu yang tidak boleh dicampur,  dalam Penggunaan Herbal :

  1. Nama Herbal Echinacea

fungsi  : Meningkatkan daya tahan tubuh  terhadap serangan flu

Pantangannya : Bagi penderita yang memiliki gangguanautoimun, dapat mempergiat sistem imun yang sudah terlalu aktif.

  1. Nama Herbal Ginko Biloba

Melonggarkan pem buluh darah

Pantangannya : Bagi pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah menggunakan dosis yang tidak tepat

  1. Nama Herbal Jahe

fungsi  : Dapat mencegah flu dan mabuk saat per jalanan

Pantangannya : Bagi pasien yang mengonsumsi obat pengenCer darah menggunakan dosis yang tidak tepat

  1. Nama Herbal Licorise

fungsi  : Meredakan batuk dan melegakan tenggorokan

Pantangannya : Bagi pasien yang mengalami tekanan darah tinggi akan memperburuk penyakitnya

  1. Nama Herbal Ephendra

fungsi  : Menurunkan berat badan

Pantangannya : Bagi pasien yang mengalami tekanan darah tinggi akan memperburuk penyakitnya

Saat memutuskan untuk mengonsumsi obat alami diabetes melitus, hendaknya pasien terlebih dahulu sudah mengonsultasikan dengan ahlinya atau disebut dengan herbalis. Pilihlah herbalis yang terpercaya dan memiliki pengetahuan dan pengalaman. Apabila mengonsumsi obat obatan herbal yang siap pakai, seperti dalam kapsul, pil, dan seduhan yang dijual secara bebas, perhatikan dengan baik aturan pemakaiannya dan tanda izin dan Depkes atau BPOM agar dipastikan tidak adanya bahan-bahan yang berbahaya. Sama halnya dengan obat-obatan medis, pasien harus kritis. Informasi juga bisa didapat melalui majalah herbal, buku-buku herbal, atau internet.

Pada dosis yang kecil, herbal akan bersifat sebagai stimulator (perangsang), sedangkan pada dosis besar justru akan bersifat seperti depressor (menekan). Jadi penggunaannya harus hati-hati sesuai dengan fungsi yang dituju apakah sebagai stimulator atau depressor. Setelah mengonsumsi herbal selama delapan jam lebih dan menimbulkan ketidaknyamanan, sebaiknya penggunaan dihentikan terlebih dahulu. Bisa jadi hal itu merupakan tanda adanya ketidakcocokan atau bahkan tanda healing crisis. Hal demikian bisa terjadi karena setiap orang memiliki reaksi yang beragam terhadap obat, bergantung pada respons tubuhnya masing-masing. Agar bisa mengetahui clengan jelas apakah hal tersebut termasuk agravasi atau ameliorasi, sebaiknya dikonsultasikan langsung kepada ahlinya atau herbalis.

Ragam ramuan tradisional untuk penyakit gula

  1. Beras merah
  2. Batang brotowali
  3. Ceplukan
  4. Kayu manis
  5. Biji alpukat
  6. Ketan hitam
  7. Biji lamtoro
  8. Daun mengkudu
  9. Biji semangka
  10. Pare
  11. Daun murbei
  12. Lidah buaya
  13. Daun Salam
  14. Bunga tunjung
  15. Biji mahoni
  16. Rimpang paku simpai
  17. Tapakdara
  18. Jombang
  19. Kunyit
  20. Lenglengan